Kamis, 17 Februari 2011

Taman Atap Alternatif Ruang Terbuka Hijau di Kota


Undang-undang No 26 tahun 1997 tentang Penataan Ruang menegaskan untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota dibutuhkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30% dari luas wilayah. Dalam peraturan tersebut juga ditegaskan bahwa RTH di perkotaaan tersebut terdiri atas 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Untuk mewujudkan persyaratan 30% tersebut bukan pekerjaan mudah. Faktanya banyak kawasan terutama di kota-kota besar yang semula peruntukkannya sebagai RTH justru berubah menjadi hutan beton, perumahan, perkantoran atau mall. Upaya mengembalikan peruntukan lahan menjadi RTH butuh biaya dan energi yang tidak sedikit. Sebagai contoh upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk mengembalikan RTH yang sempat berubah menjadi pompa bensin butuh waktu bertahun-tahun dan memlaui proses panjang hingga Mahkamah Agung.
Sebenarnya untuk mensiasati keterbatasan lahan di perkotaan tersebut, ada alternatif yang bisa dilakukan pemerintah kota, yaitu dengan membuat Taman Atap Bangunan (roof garden atau green roof). Taman Atap bisa menjadi pilihan untuk mewujudkan ketentuan luas RTH sebagaimana disyaratkan dalam UU Penataan Ruang tersebut. Yang dimaksudnya dengan taman atap adalah membuat taman di atap gedung bertingkat. Untuk mewujudkan taman atap ini perlu ada kebijakan dari Pemerintah kota. 
Gambar 1. Business Innovation Center, Belanda

Secara prinsip berdasarkan biaya (perawatan), kedalaman tanah (media tanam) dan jenis tanaman yang digunakan, taman atap dibedakan menjadi tiga macam yaitu (The Environment Site.org, 2006) :
1. Taman Atap Ekstensif (Extensive Green Roof), taman atap jenis ini membutuhkan biaya perawatan yang cukup murah, media tanam (tanah) yang dangkal, dan tanaman yang digunakan adalah tanaman hias ringan. Taman atap ini mempunyai skala bangunan yang ringan dan sempit sehingga banyak digunakan pada bagian rumah yang tidak terlalu luas seperti garasi, atap rumah, teras, atau dinding.
2. Taman Atap Semi Ekstensif (Semi-Extensive Green Roof), taman atap ini mempunyai kedalaman media tanam (tanah) yang lebih dibandingkan taman atap ekstensif, mampu menampung sejumlah besar jenis tanaman dan lebih dekoratif. Taman atap ini membutuhkan struktur bangunan yang lebih kuat dan berat.
3. Taman Atap Intensif (Intensive Green Roof), taman atap ini mempunyai ukuran yang luas dengan struktur bangunan yang besar dan kuat, mampu menampung berbagai jenis tanaman baik kecil maupun besar (pohon). Taman atap jenis ini banyak digunakan pada bangunan-bangunan besar (pencakar langit) serta dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi.
Konsep Taman Atap ini sebenarnya bukan hal baru. Pada abad 7 Masehi, di Babylon (sekarang Iran) ada ”TAMAN GANTUNG BABYLON atau THE HANGING GARDEN BABYLON. Taman yang dibangun di atap istana tersebut merupakan mahakarya dari raja KING NEBUCHADNEZZAR II yang yang khusus dipersembahkan kepada istrinya yang bernama AMYISTIS.  Tujuan Raja membangun istana dengan taman atap ini agar san istri yang berasal dari suatu kawasan yang hijau merasa betah dan masih merasa tinggal didaerah seperti daerah asalnya.
Dalam perkembangannya konsep taman atap ini menjadi alternatif bagi kota-kota besar di beberapa negara untuk mengatasi keterbatasan ruang terbuka hijaunya. Di beberapa negara taman atap terbukti mampu menambah RTH dan memberi dampak positif terhadap ekosistem perkotaan. Pada era modern ini, konsep taman atap pertama kali dikembangkan di Jerman pada tahun 1980an .  Sampai tahun 1989 ecoroof project di Jerman berhasil menghijaukan 1 juta M2 atap gedung bertingkat. Jumlah itu terus bertambah dan mencapai 10 juta M2 pada tahun 1996. Sebagai salah satu negara pelopor, keberhasilan pembangunan taman atap ini tidak terlepas dari dukungan peraturan Pemerintah Kota. Pemerintah Kota juga memberi bantuan finansial sebesar 35 – 40 DM untuk setiap meter persegi luas atap.
 Gambar 2. Punggol Roof Garden, Singapura
Di Asia konsep taman atap juga berkembang di Jepang, Korea, Hongkong, China, dan Singapura. Di Jepang, melalui Flying Green Project sejak 2004 diberlakukan peraturan minimal 20% atap gedung bertingkat dijadikan taman atap. Kewajiban ini diberlakukan pada setiap gedung layanan publik (luas minimal 250 M2) dan fasilitas komersial privat (luas minimal 1.000 M2). Di Hongkok diterbitkan surat keputusan bersama tiga menteri yang memasukkan taman atap dalam standar pembangunan gedung tinggi. Di Singapura melalui Skyrise Greening Project,  taman atap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan program Singapura sebagai Kota Taman. Kekurangan areal hijau di kota metropolitan Seoul, korea Selatan bisa sedikit teratasi dengan adanya taman atap. 30% RTH di Seoul merupakan taman atap.
Bagaimana di Indonesia? Sebenarnya keberadaan tentang Taman Atap  sudah di atur dalam Peraturan Menteri PU No 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Perkotaan. Dalam Peraturan Pelaksana UU Penataan Ruang tersebut diatur cukup detail teknis taman atap, mulai dari konstruksi atap bangunan, jenis media tanam sampai ketebalan media tanam sesuai dengan jenis vegetasi yang akan ditanam.  Jadi dari sisi kebijakan Pemerintah Kota sudah ada dasar untuk mengeluarkan kebijakan untuk memwujudkan Taman Atap di daerahnya. Kebijakan yang bisa diambil pemerintah kota misalnya mewajibkan pengelola gedung bertingkat dengan luasan tertentu untuk membuat taman di atap gedungnya. Tentunya juga perlu ada kebijakan agar ada anggaran untuk mendorong terwujudkanya keberadaan taman atap.


Syarat Taman Atap
 Sebelum membuat taman di atas gedung, satu hal yang perlu pertimbangkan adalah konstruksi atap bangunan. Apakah memang sudah didesain untuk mendukung beban media tanam berupa tanah dan pepohonan yang akan ditanam di atasnya atau tidak. Pasalnya, taman atap harus didukung struktur dan konstruksi atap yang kuat. Keberadaan taman di atas atap akan menimbulkan bertambahnya beban. Timbunan tanah dan tanaman akan menambah beban mati, beban angin, dan tambahan beban air pada atap bangunan.
Gedung tersebut harus memiliki sistem drainase yang berfungsi baik. Jika jenis tanaman perdu yang akan ditanam, dia memperhitungkan beban atap akan bertambah sekitar 650 kilogram setiap meter persegi. Ditambah lagi untuk beban hidup sesuai aktivitas pada taman atap itu. Misalnya, 400 kilogram per meter persegi untuk olahraga, 500 kilogram per meter persegi untuk pesta dan dansa, serta 250 kilogram per meter persegi untuk restoran. Untuk menanam pohon berukuran besar, pelat lantai lokasi harus didukung kolom struktural agar pelat beton tidak runtuh.
Selain itu, perlu dibuat dinding penahan tanah karena pohon memerlukan ketebalan tanah yang cukup, atau membuat lubang pada atap bangunan, di bawah pohon. Konstruksi atap rawan kebocoran, sehingga harus dilengkapi saluran pembuangan air. Lapisan drainase seperti kerikil, pasir, dan batu apung perlu ditambahkan agar air mudah mengalir ke lubang saluran pembuangan. . Filter disarankan terbuat dari geotextile atau ijuk karena berfungsi mengalirkan air ke bawah tetapi menahan butiran tanah agar tidak menyumbat lubang pembuangan. Untuk mencegah kerusakan lapisan kedap air, lapisan penahan harus ditambah agar akar tanaman tidak merusak lapisan kedap air dan beton di bawahnya. Karena terkena sinar matahari secara langsung dan tiupan angin yang lebih kencang, penyiraman harus dilakukan secara berkala. Sehingga perlu penyemprotan air bisa dilakukan secara manual atau otomatis.  
Untuk media tanam, formulanya harus ringan namun memiliki kemampuan menyediakan zat hara dan kelembaban. Misalnya, dengan mencampurkan pasir dengan serutan kayu ditambah lapisan kulit pinus serta pupuk. Kedalaman media tanam untuk rumput membutuhkan 20 sampai 30 sentimeter, begitu juga tanaman penutup. Sementara itu, semak dan pohon kecil membutuhkan kedalaman 60 sampai 105 sentimeter. Pohon besar perlu kedalaman hampir dua meter.
Jenis tanaman untuk RTH berbentuk taman atap adalah jenis yang tidak terlalu besar, dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas, tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air. Akan lebih baik jika jenis tanam yang ditanam adalah jenis tanaman yang memiliki fungsi ekologis, misalnya mampu menyrap polutan seperti debu, CO2 atau timbal.

Gambar 3. Struktur Dasar Taman Atap (Ekstensif dan Intensif)
Sumber: Townshend dan Duggie, 2007


Fungsi Taman Atap
Kehadiran Taman Atap di beberapa kota terbukti memberi manfaat ekologis yang sangat penting bagi lingkungan sekitarnya, bahkan bagi kota.  Menurut Green Rooftops (2008) taman atap terbukti memiliki fungsi sangat penting dalam keseimbangan pembangunan infrastruktur di kota. Secara umum kehadiran tama atap memberi manfaat sebagai berikut:
1.  Mengurangi tingkat polusi udara, vegetasi pada taman atap mampu merubah polutan di udara menjadi senyawa tidak berbahaya melalui proses reoksigenasi; taman atap juga berperan dalam menstabilkan jumlah gas rumah kaca (karbon dioksida) di atmosfir kota sehingga dapat menekan efek rumah kaca. Taman atap seluas 155 meter persegi menghasilkan oksigen yang cukup kebutuhan satu orang per hari. Taman atap yang dilengkapi pepohonan akan menghasilkan oksigen yang cukup untuk kebutuhan 10 orang setiap jam (Kompas, 22 Januari 2008) Satu hekatar lahan hijau terbukti dapat mengubah 3,7 ton CO2 dari aktivitas manusia, pabrik, dan kendaraan bermotor menjadi dua ton O2 yang dibutuhkan manusia. Penelitian lainnya mengungkapkan, pepohonan di areal seluas 300 x 400 meter mampu menurunkan konsentrasi debu di udara dari 7.000 partikel per liter menjadi 4.000 partikel per liter. Taman atap tidak hanya menyerap CO2, dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat juga akan mampu menyerap gas-gas polutan, seperti SO2 (sulfur dioksida) dan timah hitam (Pb). Secara kalkulatif, 1 m2 roof garden dapat menyaring 0,2 kg debu aerosol dan partikel asap setiap tahunnya. Sebagai tambahan nitrat dan bahan berbahaya lainnya di udara dan dari air hujan dapat diendapkan pada media tanamnya.
2. Menurunkan suhu udara, keberadaan taman atap dapat mengurangi efek panas radiasi sinar matahari yang berasal dari dinding bangunan maupun dari tanah (heat island effect). Taman atap terbukti mampu menurunkan suhu kota sekitar 4,2 derajat Celcius. Penelitian lain membuktikan taman atap mampu mendinginkan permukaan bangunan dari 58 derajat Celcius menjadi 31 derajat Celcius, dan menurunkan suhu dalam bangunan 3-4 derajat C lebih rendah dari suhu di luar bangunan. Tanaman di atap gedung dapat meredam radiasi sinar matahari hingga 80 persen;
3. Konservasi air, taman atap dapat menyimpan sebagian air yang berasal dari air hujan sehingga menyediakan mekanisme evaporasi-transpirasi yang lebih efisien. Keberadaan taman atap akan memberi kesempatan lebih lama kepada air untuk meresap ke dalam tanah/media tanam. Sebagian dari air hujan tersebut diuapkan kembali oleh tanaman dan media tumbuh (tanah) dan sebagian lagi dialirkan melalui dasar media. Berkat jasa tanaman, taman atap mampu mengkonservasi dan menyerap air hujan sampai 75 persen. Selanjutnya, air-air yang tersimpan ini dapat dimanfaatkan untuk menyiram kloset dalam gedung, menyiram tanaman atau mencuci kendaraan.
4. Mengurangi polusi suara/ kebisingan, komposisi vegetasi pada taman atap memiliki potensi yang baik dalam meredam kebisingan yang berasal dari luar bangunan (suara bising kendaraan bermotor atau aktivitas industri). Atap dengan berbagai jenis tanaman mampu mengurangi pantulan suara sampai 3 desibel (db) dan meredam suara sampai 8 db karena lapisan vegetasi efektif meredam gelombang elektromagnetik yang dipancarkan transmisi;
5. Menampilkan keindahan pada aspek bangunan (estetika), sama halnya dengan fungsi taman pada umumnya, taman atap (green roof) menyediakan keindahan bagi aspek bangunan sehingga tampak lebih hidup, asri, dan nyaman. Beberapa taman atap di jepang dan Jerman menjadi tempat rekreasi keluarga;
6. Meningkatkan kenaekaragaman hayati kota, taman atap dapat berfungsi sebagai habitat sekaligus penghubung bagi pergerakan organisme (wildlife) antar ruang hijau di kawasan perkotaan. Sebagai Contoh Kehadiran taman atap di Apartemen Next 21 Osaka, Jepang  mengudang setidaknya 19 jenis burung yang rutin mengunjungi atap hijau tersebut. Kedatangan burung liar tersebut ternyata juga membantu penyebaran tanaman. Dalam kurun waktu 15 tahun di atap hijau apartemen tersebut tumbuh 140 jenis tanaman dan pohon (Kompas, 7 Oktober 2007)

Jika dicermati manfaat ekologi taman atap yang tersebut diatas bisa diketahui bahwa taman atap juga akan memberi keuntungan ekonomi, khususnya bagi pengelola gedung. Karena kemampuannya dalam meredam radiasi matahari dan menyimpan sementara air hujan pada lapisan tanah sehingga atap menjadi lebih dingin, maka taman atap dapat mengurangi penggunaan energi listrik untuk perangkat pendingin udara (AC). Besarnya energi listrik yang dapat dihemat untuk pemakaian AC oleh sebuah gedung karena adanya taman atap mencapai 50 – 70 persen atau total hemat listrik sekitar 15 persen per tahun. Sebuah rumah sakit di Singapura berhasil menghemat biaya pemakaian listrik hingga sekitar 50 persen setelah membangun taman atap
            Taman atap dapat menyerap air hujan dan menyimpan air sementara di lapisan tanahnya. Selanjutnya air tersebut bisa dipakai menyiram kloset dalam gedung, menyiram tanaman, dan mencuci kendaraan penghuni atau pengguna gedung. Ini akan menghemat banyak air. Disisi lain, kondisi ini juga akan menyebabkan usia pakai saluran drainase kota bisa lebih panjang.
Taman atap terbukti akan melindungi lapisan penahan air (waterproofing) atap dari radiasi ultraviolet, kondisi ekstrem suhu udara yang fluktuatif, kerusakan fisik, dan ini memperpanjang usia lapisan sampai 20 tahun ke depan. Teknologi “Green Roof” merupakan lapisan “water proofing” hidup berfungsi untuk memproteksi bangunan dari Energi UV ray, temperature suhu energi matahari yang ekstrem, hasil study telah membuktikan bahwa dengan adanya lapisan “green roof” dapat menambah umur lapisan tradisional “water proofing” berumur lebih dari 40 Tahun. Menurut Porsche dan K√∂hler (2003) keberadaan taman atap akan melindungi atap bangunan dari kerusakan mekanis maupun fisik akibat sinar matahari dan air hujan sehingga lebih tahan lama. (dari berbagai sumber)


Sumber:
  1. http://akuinginhijau.org/2007/08/19/kota-chicago-contoh-green-roof-terbesar-bisa-jadi-solusi-banjir-kita/
  2. http://unik.supericsun.com/11-taman-atap-yang-menakjubkan-dari-berbagai-negara
  3. http://indah-bri.blogspot.com/2008/11/taman-atap-stepping-stone-hijau.html
  4. http://www.ideaonline.co.id/iDEA/Eksterior/Artikel/Balkon-dan-teras/Roof-Garden-Sebagai-Barometer-Kemodernan
  5. http://bataviase.co.id/node/281330
  6. http://www.sementigaroda.com/files/TAMAN%20ATAP.pdf
  7. http://www.rudydewanto.com/2011/01/arsitektur-hijau.html
  8. http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&view=article&id=146:kurangi-pemanasan-bumi-dengan-taman-atap&catid=81:conservation&Itemid=198
  9. http://nokiagreenambassador.kompasiana.com/2010/05/08/roof-garden-sebagai-alternatif-kota-menuju-ramah-lingkungan/

1 komentar:

  1. ada gak cara yang lebih mudah bang agar struktural bangunan tidak memerlukan biaya lebih ????

    BalasHapus